TUMBAL DUA SAHABAT DI BUKIT KUNTILANAK
Kuntilanak itu apa sih, ada nggak sih makhluk yang bernama kuntilanak itu? Pertanyaan ini terus bergelayut di dalam otakku; mempertanyakan tentang eksistensi makhluk yang disebut kuntilanak. Maka itu, ketika dibentuk tim ekspedisi ke Bukit Kuntilanak di Saporo, Kalimantan Timur, aku langsung tertarik untuk ikut dalam tim itu.

Tumbal Dua Sahabat Di Bukit Kuntilanak - "Sebagai perempuan, apa kamu sudah siap megnhadapi segala resiko yang akan terjadi di lapangan nanti? Bukit Kuntilanak itu angker lho, sudah banyak anggota tim ekspedisi syang mati di Saporo, hutan lebat yang dikenal angker di seluruh Indonesia," desis Eko Purjianto, kepala tim seorang ahli supranatural asal Semarang, Jawa Tengah, yang sudah dua puluh tahun tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Insya Allah saya saya siap Pak Eko, saya penasaran, saya benar-benar kepingin tahu, apa sih kuntilanak itu, bentuknya seperti apa dan lingkungan hidupnya macam apa," kataku, berdalih tentang rencana keikutsertaan itu.

Tim ekspedisi pencari harta karun di lingkungan bukit yang dikuasai kuntilanak itu dibentuk di Jakarta, kami berkumpul dan selalu membuat pertemuan di CBD, mall di kawasan kota Tanggerang, provinsi Banten. Eko Purjianto, selain praktek di Manggarai, Jakarta Selatan. Setiap hari Minggu, dia datang dari Balikpapapn dan membantu pasien di Jakarta, lalu pulang lagi ke Balikpapan pada hari Selasa.

Karena tekadku sudah bulat untuk ikut, maka aku pun diajak oleh Pak Eko PUrjianto. Aku satu-satunya perempuan di antara empat lelaki yang berangkat ke daerah pedalaman Kalimantan Timur itu. Kebetulan, ayah dan ibuku merestui keikutsertaanku dan juga mendoakanku.

"Mama berharap kalian semua sukses mendapatkan harta karun yang dicari dan semuanya selamat, pulang dengan utuh ke ibukota," desis Mama, kepada kami.

"Mama, aku bukan haus harta gaib yang dikuasai kuntilanak itu, Ma, aku hanya kepingin tahu dan ingin melihat seperti apa kuntilanak itu sebenarnya. Lagi pula, Ma, aku diperkenankan oleh big bos majalah tempatku bekerja, Female View, untuk meliput dunia yang selama ini tidak tersentuh pers bersegmen perempuan," tuturku, kepada mamaku.

"Hati-hati lah, Nak, Mama percaya kau bisa menjaga dirimu. Mama yakin karena kau wartawan profesional, bekerja dengan sepenuh hati, loyal total kepada pekerjaan pers ini, dan kau tak akan tergoda jika ada lelaki iseng dalam ekspedisi pencarian harta karun bangsa gaib itu," ungkap mamaku, sambil tersenyum renyah.

Kami berangkat ke Balikpapapn dari bandara Soekarno Hatta, hari Rabu, 17 Febuari 2001. Kami berlima naik pesawat Lion Air, mendarat di bandara Sepinggan pukul 13.45 Waktu Indonesia Bagian Tengah. Dari bandara Balikpapan itu, kami ke rumah Pak Eko Purjianto beberapa jam di daerah Langkin Obon, lalu naik mobil kijang milik Pak Eko Purjianto menuju Bukit Soeharto. Dari Bukit Soeharto, kami terus melanjutkan perjalanan menuju Samarinda unutk membeli beberapa alat ritual di toko Mang Ebeng di Jl. Sudirman,  setelah itu kami langsung menuju Sanga-sanga.

Mobil kijang warna hijauh tua itu dititip di Pt. Expan, ke sarudara sepupu Pak Eko Purjianto, lalu kami naik speed boat menyusuri Sungai Mahakam. Speed boat itu milik Pak Johan Arifin, saudara sepupu Pak Eko yang punya usaha kayu di Sanga-sanga.

Arkian, jarak antara Sanga-sanga ke Saporo ternyata sangatlah jauh. Jarak itu sepanjang 68 mil sungai, menyusuri Sungai Mahakam menuju matahari tenggelam.

Matahari makin sore makin menguning, lalu condong untuk tenggelam. Burung-burung walet sungai, berteriak menghitam di atas kepala kami, mereka akan segera masuk ke sarang mereka di hutan-hutan dekat Hutan Saporo.

Speed boat dikendalikan dengan baik oleh Pak Eko Purjianto yang sangat mahir menyetir boat. Lampu spotlight dinyalakan pada saat matahari makin menukik ke barat. Mesin boat menderu memecah kebisudan senja, sementara deburan angin Sungai Mahakam, semakin sore semakin mengencang. Ombak membesar dan beberapa bekantan kami lihat berlompatan dari pohon ke pohon di tepi sungai. Monyet besar berpantat merah itu berjumlah ratusan, berteriak nyaring menyambut malam.

Boat terus melaju dengan kecepatan 12 mil per-jam. Makin masuk ke dalam hutan belantara, kayu-kayu tembesu besar dengan rerimbunan dedaunan lebat. Bunga-bunga bungur berguguran jatuh ke sungai dan aku merekam keadaan itu.

"Kita akan kehilangan signal sama sekali sebentar lagi. Daerah Saporo itu adalah daerah blank spot, daerah tanpa signal sama sekali," cetus Pak Eko, saat melihatku mencari signal di LCD handphoneku.

Malam makan gelap, dan cuaca dinginpun tiba-tiba datang menyengat. "Siang hari sangat panas di sini, tapi anehnya, pada malam hari, sangat dingin. Kadang-kadang, kita akan merasa seperti di Eropa Timur," canda Pak Eko Pujianto, kepadaku.

Pukull 1945, kami sampai di Hutan Saporo. Speedboat langsung sandar dan ditambatkan pada sebuah pohon besar, yang berumur tua dengan akar-akar menjuntai ke sungai.

"Siapkan semua barang dan peralatan, kita berjalan kaki sepanjang 2 kilometer menujut Bukit Kuntilanak," ujar Pak Eko Purjianto memerintahkan kami semua untuk berbenah.

Setelah menyiapkan semua barang-barang, termasuk alat memasak, kami beranjak meninggalkan speedboat. Aku membawa dua ransel besar yang berisi kamrea handycam DCR 140 LD digital dan membawa beberapa lampu kamera handheld. Memang terasa berat membawa alat yang begitu banyak, tapi karena bersemangat karena penasaran kepingin tahu kuntilanak, maka, beban berat itu nyaris tidak aku rasakan. Batinku, aku tidak boleh mengeluh dan aku harus menjadi lelaki dengan tenaga kuat sebagai mana teman-teman yang lain dalam ekspedisi itu.

"Bila kau tidak kuat, lalu kau mau istirahat karena lelah, kau akan kami tinggal, karena hal capek ini, adalah bagian dari resiko yang harus kau temui, kau hadapi, di maan kau akan berjalan di medan yang begitu berat dengan membawa barang-barnag yang juga berat," sindir Pak Eko Purjianto, melihat aku kelihiatan megap-megap karena capek.

Mendengar omongan itu, aku langsung menegakkan badanku, menguat-nguatkan diriku, berjalan tegap layaknya empat lelaki yang ada di rombongan itu. "Siap komandan, saya akan kuat, saya tidak akan menyerah," kataku, serius.

Pukul 21.45 Waktu Indonesia Tengah, kami sudah sampai di tepi Bukit Kuntilanak. Pak Eko memerintakan kami berhenti dan memasang tenda portable yang digendong Yono Haryono, anggota tim yang bertubuh tegap besar, berpengalaman naik gunung-gunung tertinggi di dunia, bahkan baru saja turun dari Gunung Mahameru.

Setelah memasang tenda, kami makan malam. Makanan bungkusan yang dibeli dari Sanga-sanga kami keluarkan dan kami makan bersama. Setelah makan, kami melakukan sholat Isya, sekalian Maghrib yang tertinggal. Setelah makan dan sholat, Pak Eko mengeluarkan alat-alat ritualnya. Apel jin, madat Turki, kemenyan Arab dan parfum kesukaan bangsa Kuntilanak, yaitu minyak wangi Elizabeth Arden.

"Bakar kemenyan Arab itu, bakar pula isi apel jin, madat Turki yang ada di dalamnya, Siapkan senter, empat senter sekaligus, semua masing memegang satu senter, jangan ada yang bersuara batuk pun tidak boleh. Kalau mau batuk, lari sepanjang 100 meter dair areal ini," perintah Pak Eko Purjianto.

Setelah membakar semua alat ritual, Pak Eko Purjianto bersila dan mengajak semua anggota, untuk bersila di dalam tenda, mengikuti apa yang dilakukannya. Muka kami semua menghadap ke Bukit Kuntilanak dan semua berdoa, membaca mantra-mantra melayu yang sudah dibekalinya sejak kami masih di Jakarta.

Semua terdiam dan berkonsentrasi mengikuti petunjuk Pak Eko sambil membaca manra dengan konsentrasi penuh. Setelah kurang lebih tiga puluh menit bersila dan baca mantra, tiba-tiba botol apel jin bergoyang dan asap bereaksi, berputar di dalam tenda, asap itu memenuhi tenda dan hidup terasa sesak.

Bau kemenyan, madat Turki dan parfum Elizabeth Arden yang dibakar dengan alat aroma teraphy, kami tetap tidak bergeming. Beberapa saat kemudian, terdengan suara gemuruh dari Bukit Kuntilanak. Bersamaan dengan suara itu, terdengar suara wanita cekikikan, tertawa terpingkal-pingkal dan berteriak memekakkan telinga.

Pada saat yang sama, Pak Eko Purjianto mengakhiri berdiam sekalian mengakhiri silanya. Dia menepukkan kedua tangannya, memberi aba-aba bahwa kami harus berhenti membaca mantra. Secara serempak berbarengan, kami menegakkan kepala kami semua, menyelesaikan sila itu. Berhenti membaca mantra.

Pak Eko Purjianto lalu mengajak kami berdiri, lalu keluar tenda dengan masing-masing memegang senter. Aku mengeluarkan kameraku lalu memposisikan on untuk siap merekam. Begitu kami keluar tenda dan menyorot sumber suara, ya Tuhan, di sana aku melihat sesuatu pemandangan yang maha dahsyat. Enam orang gadis yang cantik, berbadan tinggi dan seksi, sensual dengan tatapan mata yang begitu indah. Mereka semua melambaikan tangan kepada kami dan meminta kami mendekat.

TUMBAL DUA SAHABAT DI BUKIT KUNTILANAK

"Mari kita mendekat, kita semua naik ke bukit itu," cetus Pak Eko Purjianto.

Kami semua beranjak mendekat wanita-wanita cantik itu. Paling depan, Pak Eko, lalu diikuti Yono, Harun dan Sandy. Sedangkan aku, yang merinding karena takut berjalan paling belakang. Dengan hati-hati, aku menaiki tanah perbukitan yang terjal itu, sambil menenteng kamera dan memegang senter.

Setelah berpelukan dengan Ratu Kuntilanak yang berdiri paling depan, Pak Eko lalu memperkenalkan kami dengna bahasa Urdiu, bahasa yang tidak kami mengerti sama sekali. Bahasa ini adalah bahasa bangsa kuntilanak yang sangat umum dilakukan oleh paranormal seperti Pak Eko.

Setelah semua menjabat tangan kuntilanak itu, giliran aku mengulurkan tanganku untuk jabatan. Aku memegang tangan kanan Ratu Kuntilanak itu dan Sang Ratu lalu memelukku dengan erat. Tubuhnya sangat wangi dan daging tubuhnya sangat lembut seperti kapas. Setelah berpelukan dengan Sang Ratu, aku memeluk dayang-dayangnya yang semua bertubuh wangi mirip bau parfum possesion ada pula yang berbau postioning.

Setelah bernegosiasi tentang harta karun yang ada di perut bukit itu, lalu Pak Eko diperkenankan membawa harta berbentuk emas batangan itu pergi. Tetapi, di luar dugaanku, dua anggota tim, ternyata ditumbalkan oleh Pak Eko, dua anggota tim kami raib, ditinggal di bukit itu dan hingga sekarang aku tidak tahu nasibnya bagaimana.

Dua tumbal itu adalah Sandy dan Yono yang bertubuh besar. Mereka raib bersama dengan raibnya rombongan kuntilanak yang dipimpin oleh Sang Ratu itu.

"Mereka menjadi dayang-dayang lelaki di dalam Istana Kuntilanak di Bukit Kuntilanak, Hutan Saporo itu," ungkap Pak Eko Purjianto, saat aku mempertanyakan tentang dua sahabat kami itu, saat kami membawa dua karung emas 24 karat di dalam speedboat kembali ke Sanga-sanga.

Aku mendapatk bagian emas, yang aku uangkan menjadi beberapa ratus juga. Namun yang paling besar mendapatkan jatah adalah istri dan anak-anak Yono dan istri serta anak-anak Sandy. Dua orang yang telah ditumbalkan oleh Pak Eko Purjianto.

Setelah berbagi-bagi hasil ritual gaib itu, aku lalu menemui keluarga Yono dan Sandy. Istri Yono tinggal di Karang Tengah, Cileduk, Banten, sedangkan istri Sandy tinggal di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Yang membuat aku terhenyak, ternyata istri Sandy, Mariana dan istri Yonom Nurjanah, semua sudah tahu bahwa suami mereka akan menjadi tumbal. Mereka semua sudah diberitahu oleh Pak Eko bahwa dua sahabtku itu, akan ditumbalkan di Bukit Kuntilanak.

"Aku sudah diberi tahu oleh Pak Eko bahwa suamiku, ayah anak-anak akan jadi tumbal. Suamiku itu hidupnya bersenang-senang sendiri selama ini, tidak pernah memikirkan anak-anaknya, bahkan biaya hidup serta biaya pendidikan anak-anak, disuruhnya aku yang jungkir balik mencari. Sementara dia santai-santai saja bersama banyak wanita malam. Maka itu, waktu pak Eko minta, aku kasih saja suamiku menjadi tumbal, asal hasil dari ritual harta karun itu didepositokan buat anak-anakku," cerita mariana, istri Sandy, kepadaku.

Mendengar cerita tumbal itu, aku terdiam lama dan tak bisa bicara apa-apa lagi. Begitu juga dengan Nurjanah, istri Yono, demi pendidikan anak-anaknya, dia rela suaminya menjadi tumbal pencarian harta karun. Hatiku sedih saat pamit pulang dan aku berjanji dalam hati, aku tidak akan ikut ritual lagi.

Aku sudah percaya adanya Kuntilanak dan eksistensi makhluk gaib, percaya pula tentang adanya harta karun yang dikuasai oleh mereka. Tetapi, dua sahabatku yang jadi tumbal, diapakan oleh mereka? Disembelih, dagingnya dimakan atau apa?

Tanyaku kepada paranormal lain, yang punya keahlian yang sama dengan Pak Eko Purjianto. katanya, dua sahabat ku itu tidak dimakan, tidak juga dibunuh. Mereka hanya raib dan menjadi abdi dalem ratu di istana gaib bangsa kuntilanak di Bukit Kuntilanak. Walau begitu, hatiku tetap berduka mensiasati dua teman ini, sangat sedih kehilangan mereka, yang sama bersusah payah merintis jalan menuju kesuksesan ritual itu.

Karena kasihan kepada dua teman ini, di mana haiku sangat terguncang oleh dua teman ini, maka aku membatalkan untuk menayangkan film itu ke televisi. Bahkan semua gambar aku hapus sebagai solidaritas kepada dua sahabat yang jadi tumbal di Bukit Kuntilanak. Duh Gusti.

(Kisah ini dialami Susanti Wijaya, Henny Nawani menulis cerita itu untuk majalah Misteri)



Nawani, Henny. 2013. Majalah Misteri Edisi 557. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.