TERSESAT DI GUNUNG MASIGIT
Menurut Imam Masjid Agung, kami tersesat di dunia jin. Kami lantas diantar pulang namun dilarang untuk menengok ke belakang sebelum tiba di tempat tujuan. Karena penasaran, larangan itu kami langgar dan akibatnya sungguh fatal!

Tersesat Di Gunung Masigit - Bagi mereka yang biasa melakukan perjalanan dari Cianjur ke Bandung atau sebaliknya, mungkin tidak akan asing kalau di kanan atau kiri jalan setelah Padalarang akan menemukan sebuah perbukitan yang kini dalam keadaan rusak akibat eksplorasi batuan kapurnya untuk keperluan bangunan ataupun pertanian. Perbukitan itu lebih dikenal dengan nama Gunung Masigit. Bukit kecil ini, pada tahun sebelum 1950-an cukup menonjol, dibandingkan dengan bukit-bukit disekelilingnya.

Struktur tanah dari Gunung Masigit ini, terdiri dari batuan gamping dan sedikit batuan andesit. Sementara tanah yang menyertainya adalah, struktur dari tanah podzolik merah kuning yang tidak subur. Jadi wajar bila di tanah ini lebih banyak didominasi oleh tumbuhan liar ilalang dan sebagian dari bukit itu ditanami tanaman albizia atau kayu albiso.

Bila melihat perbukitan ini, saya selalu teringat pengalaman tahun 60-an tatkala saya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri Bandung. Saat itu saya mendapat tugas dari dosen ilmu geologi, untuk praktek lapangan pada semester akhir. Setiap kelompok mahasiswa mendapat tugas dari dosen pembimbing, untuk mengumpulkan batuan dari lokasi Sanghiang Tikoro hingga ke Gunung Masigit. Saat itu Proyek Saguling masih belum ada, sehingga kami sangat leluasa menelusuri perbukitan yang masih sangat rawan, karena banyak binatang liarnya.

Kami yang terdiri dari satu regu mahasiswa berjumlah enam orang, ditugaskan mengumpulkan batuan dari sejak Sangiang Tikoro hingga ke karst Citatah. Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah krst atau krast yang merupakan nama suatu kawasan, di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste. Karst merupakan topografi unik, yang terbentuk akibat adanya aliran air pada bebatuan karbonat (biasanya berupa kapur, dolomit atau marmer).

Proses pembentukan karst, melibatkan apa yang disebut sebagai karbon dioksida ke bawah. Hujan turun melalui atmosfer, dengan membawa CO2 yang terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai di tanah, ia terperkolasi melalui tanah dan menggunakan leibh banyak CO2 untuk membentuk larutan lemah dari asam karbonat: CO2 + H2O = H2CO3. Infiltrasi air secara natural, membuat retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang lama, dengan suplai CO2 terus-menerus - yang kaya air, lapisan batuan karbonat mulai melarut.

Kawasan karst Citatah termasuk warisan tertua di Pulau Jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog Apu hingga selatan Rajamandala, jajaran gunung batu ini terbentuk pada zaman Miosen. 20-3- juta tahun silam (KRCB, 2006). Kawasan Karst Citatah ini meliputi: Goa Pawon, Pasir Pawon, Pasir Masigit, Pasir Bancana, Karangpanganten, Gunung Manik, Pasir Pabeasan dan Gunung Hawu.

Di daerah karst Citatah juga ditemukan situs purbakala, berupa alat-alat batu, gerabah, bongkah andesit sebagai alat tumbuk dan tulang-tulang binatang (gigi, kuku, rahang) di lingkungan Gua Pawon merupakan temuan arkeologi spektakular di Jawa Barat. Lokasi yang dikunjungi oleh penggiat aleut di kawasan karst citatah ini adalah Brigde stone (Gunung Hawu) harta alam, yang terpendam dan terancam.

Lengkungan yang secara keseluruhan merupakan lubang di dinding batu gamping tersebut memiliki ukuran lebar lebih kurang 30 m, tinggi 70 m, menggantung di atas dinding setinggi 30 m dari jalan tambang di bawahnya. Lengkungan alami Gunung Hawu di Citatah, terbentuk dari batu gamping dan prosesnya lebih mirip pembentukan Jembatan Alami di Virginia. Proses karstifikasi yang merupakan proses pelarutan senyawa karbonat, sebagai bahan utama batu gamping adalah penyebab terbentuknya lengkungan alami Gunung Hawu.

Sangat jelas sekali bahwa lubang yang terbentuk, dikontrol oleh retakan yan gmemanjang hampir utara-selatan. Sebuah lubang vertikal yang sangat dalam, diduga merupakan proses awal terbentuknya lengkungan ini. Luabng vertikal ini adalah gejala khas di daerah karst batu gamping, hasil dari runtuhan atap gua atau collapse sinkhole. Proses berikutnya diduga merupakan proses pelubangan secara karstifikasi, ke arah samping searah kemiringan lapisan batu gamping yang sangat curam ke arah selat.

Jika di Utah lengkungan-lengkungan alaminya, dilindungi sebagai monumen nasional, di Citatah fenomena alam yang di Indonesia sekalipun sangat langka ini, berada sangat dekat sekali dengan wilayah penggalian batu gamping (kapur). Kira-kira 100 m dari fenomena langka ini truk-truk tambang hilir mudik mengangkut bongkah-bongkah batu ayng dibongkar dari lereng-lerengnya. Bahkan tepat di batas utara lengkungan alami ini, terdapat sisa-sisa penggergajian batu gamping untuk pembuatan marmer.

Tidak terasa upaya pengumpulan batuan geologi ini, sudah berlangsung selama lebih dari 12 jam. Kumpulan regu pun, tidak terasa sudah berpencar dan tidak utuh lagi. Saya masih berdampingan dengan Umar, rekan satu regu. Sementara anggota regu lainnya tidak diketahui kemana mereka berpencar. Hanya satu hal yang kami ingat, bahwa anggota rombongan akan bertemu kembali di Utara Gunung Masigit dekat dengan jalan raya Bandung Cianjur.

Jam ditangan saya sudah menunjukkan pukul lima sore,namun kami merasa tidak menemukan jalur jalan yang baisa dialalui oleh penduduk. Sebatas mata memandang hanya bongkahan batu gamping dengan ukuran besar dan rumput ilalang. Hari semakin gelap, kami merasa berada di salah satu jalur jalan sekitar Gunung Masigit. Dari jauh sayup-sayup mendengar suara adzan, sangat nyaring dan merdu, menandakan bahwa waktu sholat Maghrib sudah tiba.

Kami sepakat dengan Umar untuk menuju arah suara adzan Maghrib Bertepatan dengan berhentinya suara adzan, kami bertemu dengan orang-orang yang hendak pergi ke masjid. Tanpa berkata sepatah katapun, kami mengikuti mereka menuju masjid terdekat. Sempat terbesit dalam pikiran kami, mengapa orang-orang yang mau sembahyang itu pakaiannya sama: hitam-hitam. mereke berjalan bergegas sambil menundukkan kepala.

Di antara mereka, tidak ada yang bercakap cakap. Tapi kami tidak perduli, setelah berwudhu langsung menuju ke masjid, tempat kami semua berkumpul untuk beribadah Maghrib. Sebelum imam melakukan sembahyang bersama, kami sempat melirik sekeliling masjid tempat kami beribadah. Luasnya memang cukup meyakinkan sebesar Masjid Agung Bandung dengan ornamen kalimatullah yang sangat indah di sekelilingnya. Udara terasa sejuk, disertai angin semilir yang menerpa muka para jemaah.

Sesaat setelah para jemaah berkumpul, kami memulai solat magrib dipimpin oleh khatib yang berpakaian ala oran gArab, sebagaimana juga wajahnya. Pada dagunya terdapat janggut hitam keputihan cukup lebat. Setelah seelsai shlat, para jemaah bergegas pulang menuju rumah masing-masing tanpa bercakap-cakap, seperti layaknya para jemaah di tempat kami melakukan sholat.

Mendadak tempat itu sunyi ditinggal jamaah. Kami dan teman-teman tercenung bingung karena tidak tahu sekarang mau kemana. Kami tidak tahu jalan menuju ke tempat yang telah kami sepakati. Sebelum kami berkata dengan teman seregu, tiba-tiba kami dihampiri oleh imam, sambil menyodorkan tangan ia memperkenalkan diri dengna nama Ibnu Sabil, Imam besar di Kampung Gunung Masigit. Ia mengajak pergi ke rumahnya, tidak jauh dari Masjid Agung Gunung Masigit, untuk makan bersama.

Kami masuk rumah besar yang cukup asri, dengan dekorasi alami yang sangat indah. Dalam pikiran kami, selama ini belum menemukan rumah dengan ornamen seindah ini. TIdak banyak yang diobrolkan antara kami dengna tuan rumah. Dia hanya memberitahu jika sekarang kami sedang berada di dunia kajinan (dunia jin) Gunung Masigit. Tentu saja spontan kami terkesiap mendengar penuturan Ibnu Sabil. Lama kami terdiam. Kami hanya bisa berserah pada keputusan Allah SWT mau dikemanakan kami setelah ini. Sebab ini merupakan pengalaman pertama dalam kehidupan kami yakni berada di luar dunia kemanusiaan. Kendati hati kami tercekat, tapi kami melihat wajah Ibnu Sabil sangat ramah dan mengajak ngobrol kami panjang lebar soal dunia jin Azjrak dari Persia yang diminta oleh para ulama untuk mengembangkan agama Islam di daerah ini.

Ia mengatakan, bahwa penyebaran agama Islam di dunia jin lebih sulit dibandingkan di dunia manusia. Gangguan yan gpaling nyata, datang dari kaum jin kafir Gunung Tangkuban Perahu. Hingga saat ini koloni masyarakat jin Islam di daerah Gunung Masigit, tercatat ada sekitar 100.000 jamaah. Dan tiap tahun terus bertambah lewat pengajian-pengajian yang dilauakn setiap Jumat. "Tetapi tidak kurang dari mereka ada yang terintimidasi oleh gangguan jin kafir dan murtad kembali," keluh Ibnu Sabil.

Setelah agak lama kami berbincang, tiba-tiba nongol kaum ibu menyodorkan makanan yang serba lengkap. Ada pepes dan goreng ikan mas, sayur-mayur dan buah-buahan. Sejenak kami agak ragu-ragu, apakah yang kami makan itu halal atau tidak. Melihat kami agak ragu, tuan rumah menegaskan bahwa makanan itu halal dan benar-benar dari bahan yang nyata. Setelah habis makan, kami ditawari apakah akan menginap atau pulang. Kami dan rekan serempak menjawab hendak pulang bila diberi petunjuk jalannya, karena kami sudah sepakat akan bertemu di tempat yang telah dijanjikan. Mendengar ucapan kami, Ibnu Sabil kemudian memanggil abid atau marbot masjid untuk emngantar kami ke tempat tujuan. Hanya sebelum pergi kami diminta untuk tidka melirik kebelakang agar tidak tesesat. Setelah selesai semuanya akhrinya kami berpamitan kepada Imam Ibnu Sabil, dan menyatakan terima kasih atas santapannya yang serba enak.

Kami berjalan beriringan, dengan petunjuk marbot dari Masjid Agung Gunung Masigit. Namun perasaan penasaran untuk tidak melihat ke belakang, akhirnya kami langgar juga. Setelah lebih 15 menit melakukan perjalanan tidak sampai ke tuuan saya menoleh ke belakang. Masya Allah, apa yang dilakukan oleh kami itu ternyata sebuah pelanggaran besar. Dalam sekejap Abid yang ada di depan kami menghilang, sementara di sekeliling kami terbentang padang ilalang.

Dalam keadaan terkejut, kami masih mendengar suara kendaraaan dan lampu kendaraan berbinar tidak jauh dari lokasi kami. Setelah yakin bahwa kami tidak tersesat, kami segera berlari ke jalan raya dan menghentikan angkutan umum yang melintas di jalan itu untuk menuju ke Bandung.

Waktu tidak terasa sudah berlalu tiga puluh tahun yang lalu, kini GUnung Masigit dalam proses pengrusakan secara perlahan-lahan. Bila lewat ke daerah ini, kami sulit membayangkan bagaimana kondisi daerah kajinan Gunung Masigit sekarang, apakah masih ada atau sudah pindah, karena gunung yang sebelumnya indah kini mengalami penghancuran secara perlahan-lahan. Wallahu allam bisawab.



Riskomar, Dedi. 2013. Majalah Misteri Edisi 557. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.