PEMUJA PESUGIHAN BLORONG SETELAH MENINGGAL TUBUHNYA MENJADI ULAR

Kartubi penduduk sebuah kampung di wilayah Kecamatan Jetis, Mojokerto, Jawa Timur, sehari-hari bekerja sebagai pencari tokek. Sebelum tokek ngetrend seperti sekarang ini, ia adalah pencari bekicot dan katak untuk disetorkan kepada pengepul yang ada di wilayah itu. Walaupun kerja utamanya adalah mencari tokek tapi kalau ketemu bekicot atau katak, tetap saja dibawanya pulang.

Pemuja Pesugihan Blorong Setelah Meninggal Tubuhnya Menjadi Ular - Keluar malam menjelajahi tempat-tempat sepi dan menyeramkan, seperti kuburan sudah menjadi makanan sehari-hari lelaki ini. Berbagai cerita seram sudah sering pula di dengarnya. Namun satu kali pun ia belum pernah mengalami hal yang menyeramkan atau melihat langsung wujud hantu yang sering diceritakan orang-orang di sekitarnya.

Kartubi, mendapatkan pengalaman yang menakutkan sekaligus sangat menyeramkan justru pada awal 2012 lalu. Suatu malam, saat menjelajahi sebuah perkampungan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, di sebuah rumpun bambu ia melihat sebuah benda yang warnanya mengkilap terkena sinar lampu yang dibawanya sehari-hari untuk mencari tokek. Benda mirip piring namun terbuat dari sejenis tembaga itu menarik perhatiannya sebab warnanya mirip kilatan emas.

Kartubi pun mengambil dan megnamati benda tersebut dengan seksama. Ia menjadi terkesima saat diteliti, ternyata benda mirip piring itu benar-benar seperti emas. Tapi, mana mungkin ada emas sebesar itu dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Karena itu, untuk membuktikan benda itu emas atau bukan, Kartubi pun segera membawanya pulang untuk esok harinya bisa diteliti oleh salah seorang kenalannya yang kebetulan pernah bekerja pada sebuah toko emas. Tapi belum sempat ia memasukkan benda itu ke dalam wadah terbuat dari bambu yang selalu dibawanya, tiba-tiba ada sebuah bayangan sebesar pohon kelapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Kartubi mengalihkan pandangannya pada benda yang menimbulkan bayangan itu. Seketika jantungnya hampir copot saat benda sebesar pohon kelapa yang menimbulkan bayangan itu ternyata adalah makhluk berwujud ular yang matanya menyala merah. Ular sebesar pohon kelapa itu seolah mengawasi setiap gerak-geriknya. Menurut Kartubi, seandainya saja ular itu mau, mungkin secepat kilat tubuhnya pasti sudah bisa ditangkap dan ditelannya. Namun, ternyata makhluk itu hanya mengawasi dirinya yang ketakutan.

Kartubi cepat tanggap bahwa dirinya baru saja berbuat salah. "Maaf, maaf, saya tidak akan mengambil benda ini! Akan saya kembalikan ke tempatnya", ucapnya dengan tubuh gemetaran.

Usai meletakkan benda mirip piring ke tempat pertama diambilnya, Kartubi pun bergegas pergi meninggalkan ular besar yang desisannya membuat lelaki itu lari terkencing-kencing.

Kartubi tidak melanjutkan pekerjaannya. Malam itu, ia langsung pulang ke rumah dan mengurungkan niatnya mencari tokek, bekicot, atau katak. Kepada istrinya yang malam itu belum tidur, ia menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

"Di rumpun bambu belakang rumah besar itu memang menyeramkan, Mas! Sudah banyak orang yang mengalami hal-hal aneh. Bahkan, Bu Narsih pernah menceritakan kepada saya kalau di tempat itu memang ada harta karunnya. Karena dianggap ada harta karunnya itu, pernah ada seorang paranormal dan pengikutnya yang hendak mengambilnya, namun mereka justru ketakutan setelah ditemui ular besar seperti yang Mas alami", cerita istrinya.

"Siapa Bu Narsih yang tadi kamu sebut?" Tanya Kartubi.

"Ia pembantunya Bu Darmono tetangga sebelah, yang dulu ibunya pernah menjadi pembantu di rumah besar itu", jawab istrinya.

"Apalagi yang kamu tahu dari Bu Narsih soal rumah besar itu?" Tanya Kartubi lagi. Istrinya menggelengkan kepala, ia mengaku cuma itu yang didengarnya.

Rasa penasaran membuat Kartubi menyuruh istrinya untuk mengunjungi rumah Bu Narsih. Dari Bu Narsih itulah akhirnya Kartubi dan istrinya mendapatkan cerita lengkap mengenai rumah besar yang pemiliknya diduga dulunya adalah seorang pemuja pesugihan Blorong.

Kepada istrinya Kartubi, Bu Narsih sendiri mengaku masih ingat dengan jelas, meski pada waktu itu ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia pada waktu itu memang sering ikut ibunya ke rumah salah seorang juragan kaya di kampungnya untuk menjadi pembantu. Karena sudah seperti keluarga sendiri, terkadang Bu Narsih suka masuk ke ruangan atau kamar-kamar yang ada di rumah besar tersebut.

Pada saat itulah tanpa sengaja ia sempat melihat sebuah ruangan yang ternyata di dalamnya ada pemilik rumah tengah melakukan pemberian sesaji di kamar yang baunya wangi sekali. Naluri anak-anak yang serba ingin tahu membuat Bu Narsih pada waktu itu bermaksud mengintip ke dalam untuk mengetahui apa yang di lakukan tuan rumah. Namun, ia sangat terkesima saat sampai di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat seorang lelaki tengah berhadapan dengan seekor ular raksasa yang ada di ruangan tersebut.

Ular itu sepertinya jinak dengan lelaki yang ada di hadapannya. Bahkan, lelaki tua yang menjadi majikan ibunya itu seperti tengah berbicara dengan ular besar tersebut. Karena takut, secepat kilat Bu Narsih meninggalkan tempat itu dengan jantung deg-degan menuju rumahnya sendiri. Sejak itu, Narsih tidak mau lagi kalau diajak ibunya ke rumah besar yang merupakan rumah orang terkaya di kampungnya itu.

Malam harinya, Narsih menceritakan apa yang dilihat tadi siang di rumah besar tersebut. Namun, ibunya tidak menanggapi cerita itu, bahkan ibunya melarang untuk cerita pada orang lain tentang apa yang dilihatnya.

Masih menurut Narsih, sewaktu majikan lelaki ibunya itu meninggal, juga ada peristiwa aneh yang terjadi pada lelaki itu. Saat sakaratul maut menjemputnya, terlihat ia seperti sangat tersiksa. Bukannya mengucapkan dua kalimat syahadat seperti orang islam pada umumya. Ia malah mendesis-desis keras sekali seperti bunyi desis seekor ular yang ukurannya sangat besar. Kejadian mendesis-desis seperti itu, menurut Narsih tak cuma sejam dua jam, namun sampai beberapa hari lamanya. Ia baru bisa meninggal dunia justru setelah ada seorang kyai yang membantunya.

Keanehan itu tak berhenti hanya sampai di situ. Pada saat mayat hendak dimandikan, tubuh majikan ibunya itu ternyata banyak yang mengelupas hingga mengeluarkan bau anyir, membuat orang-orang yang memandikannya tak tahan baunya, bahkan hampir-hampir muntah. Saat terkena air bahkan kulit yang mengelupas itu terlepas seperti sisik-sisik ular. Jumlahnya banyak sekali, bahkan hampir muncul di setiap bagian tubuhnya.

Karena sisik-sisik itu terus keluar dan tidak mungkin membersihkan seluruhnya, akhirnya diputuskan untuk menguburkan jasad tersebut sebagaimana adanya. Sepanjang jalan, meski mayat itu telah dimandikan, masih banyak pelayat yang mencium bau tidak sedap saat jasad itu dibawa ke peristirahatan terakhirnya.

Selepas meninggalnya majikan lelaki, perlahan-lahan tapi pasti keluarga yang ditinggalkan mengalami berbagai cobaan. Berbagai usaha yang dimiliki keluarganya bangkrut. Bahkan kini semua anak-anaknya tidak mempunyai pekerjaan yang tetap alias pengangguran dan hanya bisa makan uang hasil peninggalan orang tua mereka.

Setelah majikan perempuan meninggal, antara sang anak tidak ada yang hidup rukun. Yang ada adalah saling berebut harta peninggalan. Beberapa hektar sawah, tempat penggilingan padi, toko, dan rumah besar itu sendiri akhirnya berpindah tangan ke orang lain. Bahkan rumah itu tak bertahan lama pindah ke satu orang, tapi sudah ke beberapa orang dan banyak yang mengaku tidak betah tinggal di rumah besar itu.

Pernah juga rumah itu dimiliki oleh salah seorang anggota DPRD. Untuk menghilangkan sial dan hal-hal yang berhubungan dengan gaib atau menghilangkan nuansa yang angker, rumah besar itu sempat pula direnovasi dengan gaya arsitektur masa kini. Tapi, tetap saja penghuninya tidak kerasan hingga akhirnya rumah tersebut berpindah tangan lagi.

Kini, rumah itu disewa atau mugnkin sudah dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi alat-alat berat. Namun, tetap saja beberapa karyawan yang tinggal di tempat itu mengaku sering mengalami hal-hal yang aneh, termasuk melihat penampakan ular besar di sekitar rumpun bambu yang ada di belakang rumah besar itu.



Mujiati, R. 2013. Majalah Misteri Edisi 555. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.