KISAH MENAKJUBKAN BAGI MEREKA YANG MENCINTAI SUNNAH RASULULLAH SAW

Bagi umat manusia yang mencintai Sunnah dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh niscaya dia akan mendapat pahala dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berpegang teguh dengan sunnahku di saat ummat tengah rusak, maka ia mendapatkan seratus pahala orang yang mati syahid". (HR. Abu Hurairah). Juga disebutkan dalam kitab Asy-Syifa, bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan memasukkan seorang hamba ke dalam surga, hanya karena sunnah yang ia pegang teguh".


Kisah Menakjubkan Bagi Mereka Yang Mencintai Sunnah Rasulullah SAW - Di dalam kitab al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah, beliau menulsikan, "Allah SWT telah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS. An-Nisa': 65).

Siapa saja yang keluar dari sunnah Rasulullah SAW, maka Allah SWT telah bersumpah bahwa orang tersebut tidak beriman, hingga dia rela dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam segala hal yang ia peselisihkan di antara manusia, baik terkait masalah agama maupun dunia.

Berikut kami ketengahkan beberapa kisah bagi mereka yang mencintai dan menjalankan sunnah dengan teguh dan bersungguh-sungguh. Antara lain:


RUMAH-RUMAH DI SURGA

RUMAH-RUMAH DI SURGA

Dari Abu Umamah al-Bahily radhiallaahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda: "Aku adalah penjamin/penanggung jawab rumah di surga yang paling rendah terhadap orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada dalam kebenaran, (juga penjamin/penanggung jawab) rumah di surga yang (berada) ditengah-tengah terhadap orang yang meninggalkan dusta meskipun sekedar bercanda, (juga penjamin/penanggung jawab) rumah di surga yang paling tinggi terhadap orang yang baik akhlaknya". [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan].

Faidah hadist tersebut di atas yaitu: SUrga merupakan sesuatu yang paling dicari-cari oleh para pencarinya dan yang paling mahal untuk dipersaingkan oleh orang-orang yang bersaing memperebutkannya, maka beruntunglah orang yang berupaya untuk meraihnya lalu memenangkannya dan berbahagialah orang yang berusaha demi untuk mendapatkannya. Harganya memang mahal namun mudah dan murah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memberikan jaminan bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan mulia tersebut.


MENINGGALKAN ZINA KARENA TAKUT

MENINGGALKAN ZINA KARENA TAKUT

Kepada Allah dan Allah SWT pun memberinya M'ujizat. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah berbicara ketika masih dalam buaian (bayi) kecuali tiga orang, Isa bin Maryam. Beliau bersabda, 'Dulu dikalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang ahli ibadah, Ia dipanggil dengan nama Juraij. Ia membangun tempat ibadahnya dan melakukan ibadah di dalamnya".

Beliau bersabda, "orang-orang Bani Isral menyebut-nyebut tentang (ketekunan) ibadah Juraih, sehingga berkatalah seorang pelacur dari mereka, "Jika kalian menghendaki aku akan memberinya ujian'. Mereka berkata, 'Kami menghendakinya'. Perempuan itu lalu mendatanginya dan menawarkan diri kepadanya. Tetapi Juraij tidak mempedulikannya. Lalu ia berzina dengan seorang gembala yang meneduhkan kambing gembalaannya ke dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya iapun hamil dan melahirkan seorang bayi. Orang-orang berkata, 'Haisl perbuatan siapa?' ia menjawab, 'Juraij'. Maka mereka mendatanginya dan memaksanya turun. Mereka mencaci, memukulinya dan merobohkan tempat ibadahnya'. Juraij bertanya, apa yang terjadi dengan kalian?'

Mereka menjawab, 'Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi'. Ia bertanya 'Dimana dia?' Mereka menjawab, 'Itu dia!' Beliau bersabda, 'Juraij lalu berdiri dan shalat kemudian berdo'a. Setelah itu ia menghampiri sang bayi lalu mencoleknya seraya berkata, 'Demi Allah, wahai bayi, siapa ayahmu?' Sang bayi menjawab, 'Aku adalah anak tukang gembala'. Serta merta orang-orangpun menghambur kepada Juraij dan menciuminya. Mereka berkata kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas'. Ia menjawab aku tidak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah ia dari tanah sebagaimana semula'. Beliau bersabda, 'Ketika seorang ibu memangku anaknya menyusui tiba-tiba lewat seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat, maka ia pun berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Maka bayi iyu meninggalkan susu ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda seraya berdo'a, 'Ya Allah jangan kau jadikan aku seperti dia'. Lalu ia kembali lagi ke susu ibunya dan menghisapnya'. Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, 'Seakan-akan aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jarinya di mulut lalu menghisapnya. Lalu ibunya melalui seorang wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Sang ibu berkata, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Bayi itu lalu meninggalkan susu ibunya dan menghadap kepada wanita hamba sahaya itu seraya berdo'a, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'. Beliau bersabda, 'Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata (kepada anaknya), ;Di belakangku berlalu seorang penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat lalu aku berkata, 'Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia'. Lantas engkau berkata, 'ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia'. Lalu aku berlalu di hadapan wanita hamba sahaya ini dan aku katakan, 'Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia'. Lalu engkau berkata, 'Ya Allah jadikanlah aku seperti dia'. Bayi itu berkata, 'Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang mengenakan tanda pangkat itu adalah orang yang sombong di antara orang-orang yang sombong. Sedang terhadap hamba sahaya wanita itu, orang-orang berkata, 'Dia berzina, padahal ia tidak berzina. Dia mencuri, padahal ia tidak mencuri'. Sedang hamba sahaya tersebut berkata, 'cukuplah Allah sebagai pelindungku'.


MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

Al-Waqidy bercerita, "Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras Hingga tiga bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang sedikitpun. Saya bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjami saya uang sebesar seribu dirham. Dia pun  mengirimkan kepada saya uang sebesar itu dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu saya taruh di rumah. Malam harinya saya menerima sepucuk surat dair teman saya yang lain. Dia meminta saya meminjaminya uang sebesar seribu dirham untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirimkan kantong uang yang tutupnya masih utuh.

Besok harinya saya kedatangan teman yang meinjamiku yang, juga teman alawy yang saya berhutang padanya. Yang alawy ini menanyakan kepada saya perihal uang seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkan untuk suatu kepentingan. Tiba-tiba dia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata, "Demi Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali 1000 dirham ini. Setelah kau menulis surat pada saya, saya kirim uang ini kepadamu. Sementara saya juga menulis surat pada teman kita yang satu ini untuk pinjam seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong ini kepada saya. Maka saya bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini? Diapun bercerita pada saya. Dan sekarang ini, kami datang untuk membagi uang ini, buat kita bertiga. Semoga Allah akan memberikan kelapangan pada kita semua.

Al-Waqidy berkata, "Saya berkata pada kedua teman itu, 'Saya tidak tahu siapa diantara kita yang lebih dermawan/' Kemudian kami membagi uang itu bertiga. Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar hasil pembagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi, saya berfikir aduhai bagaimana ini?

Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid Al_Barmaky did pagi hari, meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menghadap pada Yahya Al-Barmaki, dia berkata, 'Ya Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu. Kondisimu saat ini sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu?'

Maka saya menjelaskannya sampai pada kisah tentang teman saya yang alawy, teman saya yang satunya lagi dan uang 1000 dirham. Lalu dia berkomentar, 'Aku tidak tahu siapa diantara kalian yang lebih dermawan.' Selanutnya, dia memerintahkan agar saya diberi uang tiga puluh ribu dirham dan dua puluh ribu dirham untuk dua teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi Qadhi."


MEMBEBASKAN HUTANG ORANG YANG SUSAH MAKA ALLAH PUN MEMBEBASKANNYA

MEMBEBASKAN HUTANG ORANG YANG SUSAH MAKA ALLAH PUN MEMBEBASKANNYA

Dari Ibnu Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda, "Ada seorang laki-laki yang (suka) memberi hutang kepada orang lain, kepada pelayannya ia berkata, 'Jika engkau mendatangi orang miskin, maka bebaskanlah (hutangnya), mudah mudahan Allah membebaskan kita (dari siksa-Nya)'. Beliau bersabda, "Maka orang itu menjumpai Allah dan Allah pun membebaskannya (dari siksa)'. "(Muttafaq Alaih; AL-Bukhari, 6/379 dalam Al-Anbiya' dan Muslim, 1562).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Mas'ud ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya para malaikat mengambil ruh seorang laki-laki sebelum (zaman) kalian, lalu mereka bertanya kepadanya, 'Apakah engkau pernah, melakukan kebaikan meski sekali?' Ia menjawab, 'Tidak pernah'. Mereka berkata, 'Ingat-ingatlah!' Ia menjawab, 'Tidak pernah, kecuali dahulu aku sering memberi hutang kepada orang lain, dan aku perintahkan kepada pelayanku agar mereka melihat (menagih) orang yang berkecukupan dan membebaskan (hutang) orang yang miskin'. Maka Allah berfirman, 'Bebaskan dia (dari siksa)'." (Muttafaq Alaih; Al-bukhari, 4/261 dalam Al-buyu' dan Muslim, 1560).


70 KALI MEMOHON

70 KALI MEMOHON

Ada seorang kakek yang tinggal di India. Umurnya sudah lebih dari 70 tahun. Sepanjang hidupnya selama 70 tahun itu, ia gunakan untuk menyembah berhala dari batu. Setiap hari ia begitu taat menyembah tuhannya itu.

Suatu ketika, kakek ini punya suatu keinginan. Ia pun kemudian mendatangi tuhannya seraya memohon agar doanya dapat dikabulkan. "Oh, tuhanku Latta. Oh tuhanku Uzza. Tujuh puluh tahun aku tersu menerus menyembahmu. Selama itu, tak ada sesuatupun yang aku mohonkan kepadamu. Sekarang, aku ada permohonan kepadamu. Mohon, kabulkanlah permohonanku ini".

Kakek itu memohon sambil merengek-rengek kepada Latta dan Uzza kiranya doanya dapat dikabulkan. Demikian seterusnya dia lakukan. Setelah sampai tujuh puluh kali doa itu ia panjatkan, tak ada sedikitpun pengabulan dari berhala tuhannya yang ia peroleh. Maka kakek itu sedih sekali dan akhirnya putus asa.

Dalam keputusasaannya itu, ternyata Allah SWT memberi hidayah kepada kakek. Hati sang kakek ia lapangkan segera sadar akan kekeliruannya selama ini. Gantilah kakek itu berdoa kepada Allah SWT. "Ya Allah SWT, baru sekarang aku menghadap-Mu. Aku memohon sesuatu kepada-Mu. Kabulkanlah ya Allah SWT permohonanku ini."

Selesai kakek itu berminajat kepada Allah SWT, maka sesaat kemudian ia mendengar jawaban dari Allah SWT. "Wahai hamba-Ku, mintalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu."

Waktu para malaikat mendengar jawaban yang diberikan Allah SWT kepada sang kakek, maka gemparlah para malaikat. "Ya Allah SWT, tujuh puluh tahun lamanya orang itu musyrik dan menyembah berhala. Dan telah tujuh puluh kali pula ia telah memohon kepada berhalanya agar dikabulkan permohonannya, namun itu tidak terjadi. Sekarang, ia baru sekali saja berdoa kepada-Mu, mengapa Engkau kabulkan permohonannnya itu?"

Mendengar pertanyaan para malaikat itu, maka Allah SWT segera memberi penjelasan. "Wahai para malaikat, jika berhala yang benda mati itu tidak bisa mengabulkan permohonannya dan Aku-pun juga tidak, lalu dimana letak perbedaannya antara Aku dan berhala itu?".



Kurniawan, Nompi. 2013. Majalah Misteri Edisi 555. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.