WISATA GAIB KE HUTAN SEDAYU
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Hutan Sedayu dengan sendang-sendang keramatnya merupakan kawasan yang penuh misteri. Di tempat inilah dahulu kala Empu Supo, seorang Empu Sakti menggembleng dirinya untuk menciptakan senjata-senjata pilih tanding. Jejak-jejak kegaiban hingga kini masih menyelimuti kawasan hutan sedayu.

Wisata Gaib Ke Hutan Sedayu - Salah seorang empu sakti yang hidup di zaman Majapahit adalah Empu Supo. Semasa hidupnya diperkirakan dia tinggal di wilayah hutan Sedayu, yang kini berada di wilayah Kabupaten Boyolali bagian selatan. Bekas-bekas peninggalannya sampai sekarang masih dapat dilihat. Salah satunya adalah Sendang Sedayu. Konon, sumber air ini dulunya merupakan ajang kreativitas pembuatan pusaka-pusaka sakti.

Sendang Sedayu meliputi beberapa bagian yang kesemuanya dalam bentuk sendang berukuran kecil. Beberapa sendang tersebut diantaranya adalah: Sendang Peceren, Kolokan, dan sebuah sendang tak bernama yang diyakini sebagai tempat pemandian keluarga Empu Supo.

Untuk mengunjungi tempat ini dibutuhkan perjalanan yang panjang dan amat melelahkan. Jalanan naik turun dipenihu bebatuan adalah bagian dari perjalanan Jelajah Misteri kali ini.

Apalagi untuk menuju lokasi harus melalui jalan setapak yang hampir tidak kelihatan karena tertutup semak belukar dan lebatnya daun pohon-pohon besar.

Hanya satu dua orang saja yang kami jumpai di dalam hutan. Biasanya mereka sedang mencari kayu hutan atau sedang memanen Kencur sebagai hasil tumpangsari petani setempat.

"Jangan sekali-kali mengganggu binatang yang ada di wilayah ini, Mas!" Pesan Pak Tambor, yang ikut menjelajah bersama kami.

"Memangnya kenapa, Pak?"

"Bisa jadi mereka adalah peliharaan Empu Supo yang telah merdahnyang dan menjadi bagian gaib wilayah hutan ini, "jelas Pak Tambor, supranaturalis kawakan yang memang sengaja Kami undang untuk bersama menjelajahi Hutan Sedayu, terutama unutk mencari lokasi Sendang Sedayu yang keramat dan legendaris itu.

Memang,  sudah lama Kami penasaran dengan keberadaan tempat ini. Dari banyak cerita, terdapat beberapa keajaiban yang konon ada di Sendang Sedayu. Karena itulah, ketika ada kesempatan, Kami tidak membuang waktu untuk menebus rasa penasaran.

Di sekitar lingkungan Sendang Sedayu masih banyak binatang liarnya. Sejumlah jenis burung bertengger di pepohonan. Begitu juga dengan ayam-ayam hutan. Syahdan, Empu Supo memang gemar memelihara burung Perkutut dan Jalak Putih. Bahkan disebutkan dia juga memiliki ternak ayam yang sangat besar. Konon, sampai sekarang turunan hewan peliharaan Empu Supo itu beranak pinak dan mengisi komunitas binatang Hutan Sedayu.

Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Hutan Sedayu, mereka tidak berani mengganggu regenerasi hewan peliharaan Empu Supo. Tak seorang pun yang berani menangkap dan memperjual belikannya sebab takut kutukan.

Lokasi keramat peninggalam Empu Supo berupa beberapa sendang tersebut mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Buktinya, aura kekuningan yang memancar masih sangat kuat.

Saat Kami mengambil gambar Kami mengalami suatu keganjilan. Ketika mengambil gambar pemandian Empu Supo dan Sendang Kolokan tidak terjadi apapun. Tapi ketika Genius DV Cam 610 yang mem[unyai 6 megapixel diarahkan ke Sendang Kolokan, anehnya sendang ini mendadak hilang. Yang terlihat justru gambar lain. Di dalam LCD yang terlihat suatu dunia lain yang dipenuhi warna kuning, merah, dan hijau. Kami sempat merekam gambar tersebut beberapa saat ke dalam video. Saat itu menjelang maghrib.

Kejadian ini langsung menarik perhatian Pak Tambor. Dia segera meraih tangan Kami. Dia segera komat-kamit membaca mantera. Dari jarak tujuh meteran  Kami dapat menangkap wajah Pak Tambor berubah kemerahan. Kami hanya diam memperhatikan apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, angin tiba-tiba bertiup kencang menggerakkan dahan-dahan, untuk kemudian tenang kembali. Kami pun dipersilahkan kembali mengambil gambar.


KEGAIBAN SENDANG PECEREN

Sendang yang sangat kecil ini dipenuhi ranting-ranting pohon dan daun-daunan yang telah membusuk. Meskipun demikian air sendang ini dipercaya memiliki khasiat yang sangat khusus.

"Sayang kalau sampai di sini nggak mandi Mas" Kata Pak Tambor sambil tersenyum.

"Memangnya air sendang ini mempunyai khasiat apa Pak?"

"Anda dapat melihat saya. Meskipun usiaku sudah uzur tapi kulit masih segar dan kuat berjalan jauh", jelasnya sambil tersenyum.

Memang, meskipun usianya sudah renta tapi kulit dan ototnya masih sangat kencang. Bahkan saat naik turun dalam perjalanan sama sekali tidak membuatnya terlihat kecapekan. Padahal, Kami hampir pingsan karena kelelahan.

Dengan ukuran hanya berdiameter 2 meter, sudah barang tenttu dasar sendang ini sangat dangkal. Mungkin kedalamannya hanya 70 cm. Batuan dalam sendang terlihat jelas. Begitu juga ranting-ranting dan daun-daun pohon yang telah membusuk di dasar sendang, juga terlihat jelas.

Melihat kondisnya yang kotor, maka secara nalar air sendang tersebut besar kemungkinan akan mengakibatkan gatal-gatal kalau dipakai mandi. Tapi karena penasaran, maka Kami tidak menolak ajakan Pak Tambor untuk ikut mandi. Apa yang di pikirkan Kami ternyata salah. Air sendang yang dipenuhi dedaunan dan ranting yang telah membusuk itu sama sekali tidak berbau. Bahkan, rasanya sangat segar, juga tidak menimbulkan gatal-gatal.

Selepas mandi, Pak Tambor mengisahkan pengalaman istimewanya sekaitan Sendang Peceren, Ketika masih muda di mana kehidupannya sangat susah, dia sering pergi ketempat ini. Tujuannya adalah untuk memancing ikan. Aneh, secara sepintas rasanya tidak mungkin kalau sendang dangkal tersebut ada ikannya. Bahkan dasar sendang pun terlihatjelas dan nampak tidak ada makhluk hidup yang menghuninya.

Tapi Pak Tambor meyakinkan bahwa sendang tersebut dihuni oleh ribuan ikan gabus. Memang ikan-ikan tersebut tidak kelihatan. Tapi kalau ada warga sekitar yang kelaparan dan berniat memancing untuk mengisi perutnya, maka secara aneh jika kail di lempar ke dasar sendang maka tidak lama akan muncul ikan gabus dan segera memakan umpan.

Kisah Pak Tambor tentu saja membuat Kami sangat penasaran. Apalagi sedari Kami datang, sama sekali tidak melihat satu ekor ikan pun kecuali ranting dan dedaunan yang telah membusuk.

Rasa penasaran tersebut rupanya diketahui oleh Pak Tambor. Seraya tersenyum, Pak Tambor meraih tangan Kami dan menyerahkan sebutir batu kecil.

"Lemparkan batu itu ke air!" pintanya sambil senyum.

Tanpa bertanya lagi Kami segera melempar batu kecil tersebut ke dasar sendang. Apa yang kemudian terjadi membuat kami berdecak kagum. Secara tiba-tiba muncul ikan gabus yang berenang perlahan mendekati batu yang Kami lempar barusan. Ini sungguh aneh. Bagaimana mungkin ada ikan di sendang yang airnya sangat dangkal?

Keanehan tak berhenti di situ. Menurut Pak Tambor, Sendang Peceren dari dulu sampai sekarang mempunyai debit air yang ukurannya sama. Meskipun kemarau panjang menyerang daerah tersebut, namun air sendang tersebut tetap stagnan. Bahkan kabarnya, beberapa kubikpun air telah diambil oleh penduduk sekitar tetap tidak mengurangi isinya.

Peceren sendiri berarti "buangan". Jadi Sendang Peceren dulunya merupakan buangan dari tempat pemandian Empu Supo. Oleh karena itu pula dipercaya air sendang ini mempunyai keistimewaan karena airnya bekas mandi Empu Supo, manusia pinilih yang dipercaya mempunyai segudang kesaktian.

Tak jauh dari Sendang Peceren ada sebuah punden yang sangat dikeramatkan. Warga yang tinggal di lereng Hutan Sedayu juga mempunyai hajat, baik itu khitanan ataupun pernikahan, biasanya sebelum pesta dimulai mereka dengan kesadaran sendiri mendatangi tempat ini dan memberikan ubo rampe ataupun sesaji. Sesajinya berupa seperangkat nasi tumpeng yang di bungkus dau jati, opak warna-warni, dan lauk ikan.

Di samping memberikan sesaji biasanya mereka juga membakar kemenyan sebagai sarana penghubung bahasa antara alam manusia dan alam gaib. Kebiasaan ini sudah sangat melegenda di kalangan masyarakat sekitar dan tidak dapat di tinggalkan. Mereka menjunjung tinggi adat leluhur.

Yang tak kalah menarik, menurut cerita warga lereng hutan, burung-burung yang ada di sekitar Hutan Sedayu mempunyai suara bagus. Terutama burung Perkutut dan Jalan Putih. Burung-burung tersebut di percaya masih keturunan dari burung peliharaan Empu Supo.

Menurut Pak Tambor, memang di sekitar areal sendang terdapat banyak burung Perkutut dan Jalak Putih di samping juga keturunan ayam-ayam peliharaan Empu Supo. Uniknya, tiap menjelang maghrib ratusan ayam tiba-tiba datang ke lokasi sendang dan memilih tidur di tempat tersebut. Demikian juga dengan burung-burung Perkutut dan Jalak Putih. Mereka sepertinya memang lahir dan besar dari tempat ini, sehingga kalau malam menjelang mereka semua kembali.

Dikisahkan oleh Pak Tambor, pernah suatu ketika Sartono, pamannya, menangkap seekor burung Jalak Putih Hutan Sedayu. Burungnya terlihat penurut sehingga Sartono tidak mengalami kesulitan menangkapnbya. Karena senangnya dia mendapatkan burung Jalak Putih itu, maka dia pun membelikan sangkar yang bagus dan terbuat dari rangkaian kawat besi yang rapat. Rasanya sekecil apapun ukuran tubuh sang burung tidak akan bisa keluar.

Namun, keanehan terjadi pada Jalak Putih yang ditangkap Sartono. Burung itu saat menjelang maghrib tiba-tiba dapat dengan mudah keluar dari sangkar besi yang mengurungnya.

"Burung tersebut seolah-olah bisa menembus sangkar besi yang kuat." jelas Pak Tambor


ENERGI GAIB SENDANG KOLOKAN

Sendang ini diameternya lebih kecil dari Sendang Peceren. Mungkin hanya sektiar 1,5 meter. Tapi aura yang memancar lebih kuat dari sendang lainnya. Terutama aura merah yang mematikan. Hal ini dapat dimaklumi karena dulunya semasa Empu Supo masih hidup sendang ini digunakan untuk merendam pusaka-pusakat sakti yang telah dibuatnya. Setelah logam-logam yang sudah dibumbui hawa kesaktian untuk pembuatan pusaka itu di bakar dengan panas yang tinggi, untuk mendinginkannya maka pusaka sakti tersebut dicelupkan ke Sendang Kolokan.

Mungkin, dari legenda inilah sendang tersebut di beri nama Sendang Kolokan.

Sampai sekarang sendang ini memancarkan energi yang mematikan. Meskipun airnya dingin tapi energi pusaka-pusaka sakti yang pernah direndam di tempat ini masih kuat. Karena banyaknya pusaka sakti yang telah direndam, maka aura panas tempat ini membuat air sendang ini mempunyai energi gaib yang saling berbenturan. Akibatnya sangat tidak baik bagi makhluk hidup yang memanfaatkan airnya.

Diperkirakan, dalam kadar airnya mengandung energi sakti yang berbenturan maka makhluk hidup yang memanfaatkannya akan terserang energi negatif. Misalnya saja bisa menyebabkan hilang ingatan atau terserang penyakit aneh.

Menurut Pak Tambor, pernah suatu ketika seekor sapi milik salah seorang penduduk lepas sampai ke lokasi sendang ini. Begitu melihat air yang bening yang menggenang di Sendang Kolokan, maka sapi tersebut langsung mendekat dan berkubang di dalamnya. Anehnya, begitu tubuh sapi menyentuh air sendang, maka dia langsung tidak bergerak lagi. Sapi tewas seketika!

Karena itu makanya tak seorang pun warga yang berani memanfaatkan air Sendang Kolokan. Mereka amat mempercayai kekuatan gaib yang menyatu dengan air sendang ini, mempunyai kekuatan yang sangat mematikan.

Disebutkan, orang-orang yang dapat memanfaatkan sendang air tersebut hanya manusia terpilih yang mengerti tentang kesaktian.

Meskipun sendang ini airnya sangat mematikan, namun penduduk lereng Hutan Sedayu tetap merawatnya dengan baik. Mereka menganggap bahwa Sendang Peceren, Sendang Kolokan, dan Sendang Bekas pemandian Empu Supo adalah serangkaian tempat yang saling berhubungan dan mendukung kekuatan satu sama lain, sehingga alam di Hutan Sedayu menjadi singkron dan seimbang.



SP., Rosikin. 2006. Majalah Misteri Edisi 408. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.