![]() |
| Gambar oleh Lothar Dieterich dari Pixabay |
Sungguh tragis akhir kisah kehidupan Panji. Dia tidak menyangka akan menderita setelah nyawanya tercabut dari badannya. Apakah yang menyebabkan semua itu? Berikut ini Kami memaparkan kisah kehidupannya. Semoga dapat menjadi teladan bagi kita semua.
Pesugihan Siluman Kera Pulau Majeti - Tahun 1993, Panji melepas masa lajangnya dan memilih seorang gadis manis teman semasa SMA-nya. Saat itu, Panji memang sudah dapat dibilang mapan karena pekerjaan tetapnya di suatu perusahaan swasta. Oleh karena itu, dia berani menikahi gadis manis yang bernama Arisa.
Pernikahan Panji dan Arisa berlangsung meriah, meski tak terlalu mewah. Setelah resmi menjadi suami istri, keduanya pun hidup bahagia. Hidup baru yang mereka jalani berjalan layaknya air yang mengalir, hingga beberapa bulan kemudian, kebahagiaan mereka kian lengkap dengan hadirnya seorang bayi mungil yang amat lucu.
Pepatah mengatakan, hidup tak selalu indah. Tanpa disangka perusahaan tempatnya bekerja turut jadi korban badai krisis moneter. Panji di PHK, karena perusahaan tempatnya bekerja terpaksa gulung tikar. Dia memang sempat mendapatkan pesangon yang cukup besar. Namun Panji yang sama sekali tidak punya jiwa bisnis tidak dapat mengelola uang tersebut. Akibatnya, lambat laun persediaan uang kian menyusut, sebab terpakai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Kehidupan Panji pun mulai dibayangi oleh gelapnya mendung.
"Kita harus mulai membuka usaha kecil-kecilan, Mas!" Usul Arisa, ketika menyadari bahwa jumlah uang pesangon suaminya kian terkikis habis.
"Usaha apa? Aku sama sekali tidak punya keterampilan yang bisa dijual", jawab Panji, pasrah.
"Usaha apa saja, Mas!" Tegas Arisa. Lalu, sambil memandang ragu suaminya dia melanjutkan, "Sebenarnya saya punya rencana usaha. Tapi saya takut mengatakannya".
"Usaha apa?" Panji balas menatap.
"Dulu saya pernah belajar membuat bakso, Mas. Tapi, aku takut mengajukan usul ini karena aku pikir Mas pasti tidak akan mau berjualan".
Semula Panji memang enggan jika harus berjualan bakso. Tetapi setelah dia berpikir cukup lama, dan dia dihadapkan pada pilihan yang serba buntu, akhirnya dia mau juga menerima usulan istrinya itu.
Beberapa hari kemudian, Panji mulai berjualan bakso keliling. Semula dia malu berjualan seperti itu. Tapi jika ingat anak dan istrinya yang memerlukan banyak sekali kebutuhan, maka rasa malu itu seketika sirna. Baginya, biarlah bekerja sebagai penjual bakso keliling, toh yang penting dapat menafkahi keluarga dengan jalan halal.
Waktu berjalan begitu cepat. Sudah beberapa bulan lamanya Panji berjualan bakso keliling. Meski jumlahnya tak seberapa, namun dia sudah punya penghasilan tetap untuk sekedar membuat dapurnya tetap berasap.
Denyut kehidupan memang selalu tak terduga. Hal ini juga yang lagi-lagi dialami Panji. Suatu ketika, jualan baksonya berubah sangat sepi. Dalam sehari, paling-paling hanya bisa menjual beberapa mangkuk bakso saja, sedangkan sisanya terpaksa harus dia bawa pulang kembali. Kenyataan inilah yang akhirnya membuat dia merasa bosan dan putus asa. Sudah hidupnya pas-pasan, kadang-kadang dia pun harus menderita kerugian akibat baksonya yang sepi pembeli.
Sampai suatu hari, Panji bertemu dengan salah seorang sahabatnya semasa kecil yang bernama Ading. Panji pun memanfaatkan pertemuan itu untuk menceritakan keluh-kesahnya.
"Ya, begitulah! Aku terpaksa berjualan bakso keliling sebab aku tak ingin melihat anak dan istriku kelaparan", cetus Panji dengan setengah putus asa.
Ading merasa kasihan juga melihat nasib sahabatnya itu. Usai mendengar jalan kehidupan yang dituturkan oleh Panji, dia pun memberitahukan tentang suatu cara bagaimana mendapatkan uang dengan sangat mudah. Ya hanya satu cara itu yang bisa mengubah jalan hidup seseorang. Sayangnya, cara yang dimaksud memang hal yang tidak semestinya.
Rupanya, Ading memberitahukan tentang keberadaan sebuah pesugihan dengan memuja siluman kera yang ada di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Pulau Majeti, di Desa Rawa Onom, Kab. Subang, Jawa Barat.
"Kalau kau tertarik, kau bisa coba membuktikannya. Ya, jangan kau pikirkan bagaimana akibatnya nanti, yang penting kau bisa hidup kaya raya. Setelah kaya, kau kan bisa bertobat, kau bisa menyumbang masjid, anak yatim, dan bersedekah sesuka hatimu", Papar Ading dengan bersungguh-sungguh.
Panji cukup tertarik mendengar cerita sahabatnya. Tetapi dia terkejut ketika mendengar satu syarat yang rasanya tidak mungkin dia lakukan. Apakah itu?
Menurut Ading, salah satu syarat pokok persugihan kera itu adalah si pelaku harus merelakan istrinya digagahi oleh siluman kera penghuni pulau Majeti.
Ah, bagaimana mungkin Panji akan merelakan istrinya disentuh oleh orang, ataupun makhluk dari alam lain. Dia sangat mencintai Arisa, sehingga sulit baginya untuk melakukan hal tersebut.
"Kalau kau memang tidak rela, sudahlah! Tapi aku ingatkan, kau tidak akan mungkin bisa mendapatkan kekayaan semudah ini di tempat lain", kata Ading.
Seminggu setelah pertemuan dengan Ading, Panji baru menceritakan cerita sahabatnya kepada istrinya. Arisa tentu saja terkejut mendengar cerita itu.
"Biarlah kita hidup susah seperti ini, daripada tubuhku harus dijamah oleh makhluk siluman", tegas Arisa waktu itu.
Kemiskinan selalu mendekatkan orang pada kekufuran. Begitulah yang pada akhirnya terjadi. Setelah persediaan uang belanja nyaris nol, sementara berhutang di warung juga sulit. Tapi, mengingat keadaan ekonomi keluarganya, akhirnya Arisa pun berubah pikiran. Selama ini, setan diam-diam telah membujuknya untuk berbuat dosa. Setan membisikkan dan memberi gambaran menakutkan bahwa penderitaan dan kemiskinan itu teramat mengerikan.
"Kenapa kau harus takut mengorbankan tubuhmu. Bukankah hanya sesaat saja makhluk itu kau layani? Tapi, bayangkanlah harta yang akan kau miliki. Kau akan kaya raya, hidup senang dan dihormati orang!" Demikianlah kira-kira bujukan sang iblis laknatullah.
Singkat cerita, setelah bersepakat. Panji dan istrinya pun berangkat ke Pulau Majeti. Mereka datang pada hari Selasa Kliwon. Di pulau Majeti itu mereka menemui seorang kakek yang tak lain adalah juru kunci pulau tersebut.
"Apa kamu dan istrimu sudah benar-benar merasa mantap dengan niatan ini?" Tanya sang juru kunci.
Panji dan istrinya tidak menunggu waktu lama untuk mengangguk. Karena sebelumnya telah bulat dengan keputusannya, maka mereka pun langsung mengiyakan.
"Tapi, kalian sudah tahu kan syarat utamanya?" Tanya sang kakek lagi.
"Ya, kami sudah tahu, dan kami sudah bersiap, Kek!" Kali ini yang menjawab Arisa sendiri.
Akhirnya, ritual pun dilaksanakan. Pukul 11 malam, oleh juru kunci Arisa disuruh masuk di suatu bilik yang gelap dan penuh dengan aura mistis. Sementara itu, Panji dibiarkan menunggu di ruang lain.
Apa yang terjadi terhadap diri Arisa kemudian?
Sekitar pukul 1 dinihari, tibalah seorang lelaki tinggi besar dengan wajah seperti kera, dan sekujur tubuhnya dipenuhi bulu hitam yang sangat lebat. Rupanya, makhluk inilah yang disebut sebagai Raja Siluman Kera. Siluman Kera itu menggagahi Arisa dalam waktu yang cukup lama.
Arisa cukup kepayahan juga melayaninya. Namun anehnya, bukan takut, dia justru merasa puas dengan sensasi seks gaib itu. Rasanya, dia tak pernah mendapatkan sentuhan sedahsyat itu dari suaminya.
Setelah Arisa keluar dari bilik itu, apalagi dengan wajah yang amat cerah, Panji merasa lega sekali. Dia tadi sungguh tidak tega membayangkan istrinya diperlakukan tak senonoh oleh makhluk gaib. Namun apa daya, harta dan kekayaan berlimpah telah menutup mata batinnya.
"Ada tiga pantangan yang harus kalian perhatikan, khususnya buat kamu, nak Panji. Pertama, nak panji tidak boleh berhubungan dengan istrimu pada saat malam Jum'at Legi. Kedua, kamu juga tidak boleh berhubungan pada bulan puasa dan hari lebaran", jelas sang juru kunci setelah pasangan suami istri itu dianggap sukses memenuhi persyaratan yang terutama.
"Lantas apalagi yang harus saya lakukan agar cepat kaya, Mbah?" tanya Panji, seolah tak sabar.
"Jalankan saja usaha dagang baksomu itu. Hari pertama kamu berjualan, permintaanmu untuk mengubah uang yang kamu terima menjadi berapa saja akan terkabul dengan sendirinya", tegas sang juru kunci.
Begitulah akhirnya yang terjadi. Serba aneh, namun nyata. Beberapa hari kemudian, Panji mulai berjualan bakso lagi. Dia tidak sabar sekali menunggu pembeli pertama. Saat ada pembeli pertama, dia menerima uang dua ribu rupiah. Dia lalu membatin dan ingin uang itu berubah menjadi seratus ribu rupiah. Ketika dia menutup uang itu dan membukanya lagi, aneh bin ajaib, uang itu sudah berubah menjadi uang seratus ribu rupiah.
Panji senang sekali melihat keajaiban ini. Demikian pula dengan istrinya. Hal ini berarti pengorbanan yang mereka lakukan tidak sia-sia.
Karena keajaiban yang sedemikian, maka tentu saja dalam waktu singkat kehidupan Panji pun berubah. Dia menjadi amat mudah mengumpulkan uang, sehingga lambat laun kehidupannya pun semakin kaya. Dan dia tak lagi menjalankan profesi sebagai penjual bakso keliling. Untuk menutupi kecurigaan para tetangga atas perubahan hidupnya yang begitu cepat, dia pun berpindah profesi menjadi penjual pakaian di pasar.
Kekayaan Panji pun kian bertambah dan bertambah. Bahkan dalam waktu kurang dari dua tahun, dia telah berubah menjadi orang terkaya di Desa Geugeur Ilat, Kabupaten Subang. Toko pakaiannya di pasar setempat sudah ada beberapa buah, demikian pula dengan barang properti yang lainnya.
Sampai suatu ketika, Panji bertemu dengan seorang pria bersorban putih. Dilihat dari pakaiannya, lelaki paruh baya ini seperti seorang yang amat ahli ibadah. Saat bertemu dengan Panji, dia memandangi Panji dengan tatapan sangat tajam. Panji tentu saja merasa risih ditatap sedemikian rupa.
"Kenapa Bapak menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan diriku?" Tanya Panji.
"Anak muda, usia manusia tidaklah panjang. Alangkah baiknya kamu berhenti dan hidup secara normal", jawab si pria bersorban sambil terus menatap Panji.
"Apa maksudmu?" Panji mulai kurang suka.
Si pria bersorban malah menjawab dingin, "Wajah dan tubuhmu seperti kera. Tidakkah kau pernah berusaha melihat bayangan dirimu yang sesungguhnya, Anak Muda?"
Pria bersorban itu segera pergi meninggalkan Panji. Sementara, Panji terkejut mendengar perkataan orang itu. Dia tidak percaya dengan isi perkataan itu. Dia kemudian mengambil cermin dan melihat bayangan wajahnya sendiri. Ternyata wajahnya tetap normal dan tidak seperti kera seperti yang dikatakan oleh orang bersorban itu.
Tetapi bagaimana mungkin orang itu berbohong padaku? Bukankah dia tadi menyinggung-nyinggung soal kera?" Pikir Panji.
Namun, nasihat orang bersorban itu tidak membuat Panji bertobat. Dia tetap saja menikmati hidupnya yang kini dipenuhi harta yang bertumpuk-tumpuk.
Kekhilafan adalah sifat sejati manusia. Inilah yang kemudian terjadi. Tanpa disengaja, Panji melanggar pantangan pertama. Entah bagaimana, dia berhubungan intim dengan istrinya pas pada malam Jum'at Legi. Entah mengapa, malam itu dia memang begitu berhasrat untuk mereguk kenikmatan bersama Arisa. DEmikian pula Arisa yang begitu bergairah menyambut kehadiran suaminya, sehingga mereka sama-sama lupa bahwa malam itu hari berada dalam pasaran Legi.
Lantas, apa yang terjadi kemudian?
Panji terkejut saat esok paginya tubuhnya mendadak saja gatal-gatal. Semakin digaruk, rasa gatal itu malah terus menjalar ke tempat lain. Tak urung, selama seminggu Panji menderita gatal-gatal yang sangat menyiksa. Anehnya, penyakit ini kemudian hilang dengan ssendirinya.
Panji tetap tak sadar bahwa dia telah melanggar pantangan. Sampai tiba saat bulan Ramadhan, Panji kembali melanggar pantangan yang kedua. Ya, kali ini dia coba tidak menggubris pantangan yang telah digariskan, sebab rasanya sulit untuk tidak berhubungan badan selama sebulan penuh. malam itu, tanpa rasa curiga, dengan penuh gairah Panji mencumbu istrinya. Arisa pun dengan gairah menggelora membiarkan dirinya dipacu menuju puncak asmara.
Apa yang kembali terjadi?
Esok paginya Panji kembali menderita penyakit gatal. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Meski sudah berobat ke dokter kulit, namun penyakit gatal itu terus saja menjalar. Anehnya, kira-kira dua bulan kemudian penyakit itu sembuh dengan sendirinya.
Kendati demikian, Panji tetap tak sadar bahwa dirinya telah melanggar pantangan yang telah ditentukan oleh makhluk siluman yang dipujanya. Tahun berikutnya dia malah kembali melanggar pantangan itu. Kali ini adalah pantangan terakhir yang dilanggarnya. Ya, panji melakukan hubungan intim denganistrinya pas di siang hari saat Idul Fitri.
Apa yang kali ini terjadi?
Setelah berhubungan intim dengan Arisa di siang pas hari lebaran itu, Panji menderita penyakit gatal yang luar biasa hebatnya. Bahkan, penyakitnya itu tak kunjung sembuh meski dia telah dibawa ke rumah sakit atau dokter spesialis sekalipun. Puluhan orang pintar juga telah didatangi, tetapi penyakitnya kian hari kian parah. Bahkan tubuhnya mengelupas seperti sisik ular.
Penyakit yang di luar batas kewajaran itu melahirkan penderitaan yang amat hebat bagi Panji. Perlahan namun pasti harta benda miliknya mulai menyusut sebab terkuras untuk mengobati penyakitnya itu.
Setahun lebih Panji disiksa oleh penyakit gatal yang luar biasa. Karena terus berobat dan membutuhkan biaya amat besar, perlahan Panji kembali hidup miskin. Di tengah kemiskinan, dia mulai menyesal sebab telah bersekutu dengan siluman kera.
Setelah hampir dua tahun menderita, akhirnya Panji meninggal dengan tubuh kurus kering, seperti layaknya mayat hidup.
Kabar aneh pun tersiar di saat hari kematian Panji. Saat dimandikan beberapa orang melihat keanehan pada tubuh Panji. Ya, ada sekitar 18 orang yang melihat tubuh dan wajah Panji berubah seperti layaknya seekor kera. Kejadian ini sempat sangat mengejutkan, bahkan hampir terjadi keonaran. Tapi untunglah, karena tidak semua orang bisa melihatnya, akhirnya keanehan yang diceritakan itu dianggap orang hanya angin lalu semata.
Keanehan lain juga terjadi. Pada acara selamatan tujuh hari kematiannya, terdengar suara erangan-erangan mirip seekor kera yang berasal dari sudut-sudut rumah almarhum. Bahkan, ada beberapa orang yang mengaku seperti mendengar suara-suara mirip kera itu tengah berbicara pada Arisa, istri Panji.
"Ada apa sebenarnya dengan almarhum Pak Panji, Bu. Coba tolong ceritakan, mungkin saya bisa membantu mencarikan jalan keluarnya", pinta Ustadz Nasrullah yang dulu mengenal Panji sebagai orang yang sangat dermawan.
Dengan berat hati, istri Panji pun menceritakan semuanya bahwa, selama ini mereka telah memuja pesugihan siluman kera.
"Begitulah yang terjadi terhadap kami, Pak Ustadz. Kami telah menjadi orang-orang yang sesat", tutur Arisa dengan berlinang air mata yang menganak sungai di atas wajahnya yang mulai keriput karena usia yang beranjak tua.
Mendengar hal ini, Ustadz Nasrullah berjanji akan memanggil seorang Kyai beserta dua belas santrinya untuk membebaskan roh panji. Mereka akan berangkat menuju Pulau Majeti untuk melihat apa yang terjadi terhadap Panji sebenarnya.
Sesampai di Pulau Majeti, Kyai dan para santri itu mencoba menemui juru kunci yang dulu membantu Panji dan istrinya dalam merengkuh pesugihan. Sayangnya, ternyata juru kunci itu telah meninggal dunia.
Melihat kenyataan ini, akhirnya mereka melakukan suatu ritual yang disertai dengan doa-doa. Kyai dan para santrinya kemudian melihat Panji sedang berada di kerajaan siluman kera. Di sana panji disuruh bekerja keras dan disiksa dengan keji.
Air mata Panji sungguh membuat Kyai dan dua belas orang santrinya merasa kasihan. Sayangnya, Kyai dan para santrinya tidak dapat banyak membantu. Mereka hanya meminta supaya Arisa mendoakan suaminya diampuni dosa dan kesalahannya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dengan doa tulsu semoga kiranya arwah Panji dapat diterima disisiNya.
Nyawa Panji memang sudah terpisah dengan jasadnya. Namun ketentraman di alam lain yang seharusnya di dapat setelah mati tak dia dapatkan karena persekutuannya dengan siluman kera.
Ingatlah, sesuatu yang di dapat dengan mudah memang mengandung resiko yang amat besar, apalagi hal tersebut ditempuh dengan cara menduakan Allah SWT. Karena itu alngkah mulianya kita mementingkan kehidupan akhirat dan menomorduakan kehidupan di dunia ini, dengan tetap berusaha untuk menggapai kebahagiaan yang sewajarnya.
Wibisono, Denny. 2006. Majalah Misteri Edisi 408. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.
