![]() |
| Gambar oleh 鹏 赵 dari Pixabay |
Pada awal-awal kemerdekaan, tatanan dan konsep negara didominasi paham jawa sentris. Di samping karena alasan geografis dimana pusat pemerintahan berada di tanah Jawa, meski dia berlatarbelakang kebudayaan non Jawa. Tidak heran jika lingkungan Istana Negara juga didekatkan sedemikian rupa dengan konsep keraton ala Jawa. Sayangnya pendekatan itu kurang sempurna karena hanya tiga dari empat unsur sebuah kuta negara dalam konsep Jawa yang dipenuhi yakni halun-halun (taman Monas), istana dan tempat peribadatan (Masjid Istiqlal/Gereja katedral). Sementara benteng (palisade/baluwarti) yang menjadi pilar ke empatnya diabaikan. Tidak heran jika kemudian Istana Negara begitu 'panas'. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab kebanyakan presiden kita tumbang di tengah jalan!
Menyingkap Prahara Istana Negara (Part 1) - Untuk mendapat gambaran yang lengkap mengenai perlu tidaknya benteng yang mengelilingi Istana Negara, Eka Supriyatna dari Majalah Misteri mewawancarai Ki Kusumo di kediamannya di daerah Bekasi Jawa Barat. Berikut pernuturannya:
Benarkah ketiadaan benteng yang mengelilingi Istana Negara menjadi salah satu penyebab berlarutnya prahara di negeri ini, termasuk kejatuhan sejumlah presiden sebelum masa jabatannya habis?
Iya, itu salah satu penyebabnya. Mestinya Istana Negara memiliki benteng atau tembok yang kokoh sebagai simbol keagungan dan kewibawaan. Terlebih kita memiliki sejarah panjang yang menguatkan hal itu. Dalam sejarah, keraton di nusantara, khususnya Jawa, selalu menerapkan empat unsur dalam membangun pusat kekuasaan atau kuta negara yakni alun-alun, istana atau keraton, tempat peribadatan dan benteng.
Presiden Soeharto tidak tinggal di Istana Negara namun tetap tumbang di tengah jalan?
Istana itu simbol dari sebuah negara atau kerajaan, bukan rumah tinggal saja. Ini yang harus dipahami. Meski presidennya tinggal di Cendana atau Cikeas, tetap saja Istana Negara disebut sebagai tempat tinggal dan tempat kerja presiden. Bukankah Istana Negara tidak diberikan kepada pejabat lain meski presidennya tidak tinggal di situ? Artinya Istana Negara itu melekat dalam diri seorang presiden.
Tetapi jika Istana Negara dikelilingi benteng apakah tidak akan terkesan membuat jarak antara pemimpin dengan rakyatnya?
(Ki Kusumo tertawa). Kedekatan seorang pemimpin dengan rakyatnya tidak ditunjukkan dengan atribut semacam itu. Meski pun tinggal di lapangan terbuka, pemimpin itu tetap jauh dari rakyatnya kalau kebijakannya tidak pro rakyat. Sebaliknya, meski dia tinggal di dalam gua, seorang pemimpin tetap akan dikatakan dekat dengan rakyat jika dia selalu merespon segala kesusahan rakyat dan membuat kebijakan yang membela kepentingan rakyat. Jadi masalah kedekatan itu lebih pada kebijakannya, bukan fisiknya!
Ki, negara kita kan berbentuk republik, bukan kerajaan. Jika kemudian dibangun benteng di sekeliling Istana negara, meniru filosofi keraton khususnya Jawa, tidak justru mengesankan negara kerajaan?
Tentu tidak. Bangsa-bangsa lain juga membuat istana negaranya berdasarkan budaya dan sejarah bangsanya. Justru dengan begitu akan membuang kesan warisan kolonial karena Istana Negara kita dibangun oleh kolonial Belanda.
Bukankah Istana Negara sudah diberi pagar besi?
Yang dibutuhkan untuk melengkapi keberadaan Istana Negara berupa benteng, bukan pagar rumah!
Jadi model benteng seperti apa yang pas untuk Istana Negara Indonesia, Ki?
Pengertian benteng kan tembol tebal dan tinggi lengkap dengan lubang-lubang untuk mengintai dunia luar atau penempatan moncong meriam. Karena digambarkan seperti itu, maka tidak salah jika kemudian timbul kesan seram. Padahal tidak selamanya benteng seperti itu. Cukup pagar tembol setinggi dua meter dan satu pintu gerbang di bagian depan. Untuk memperindah bangunannya, pada dinding tembok dibuat ornamen yang menceritakan sejarah berdirinya negara ini.
Tentu memerlukan biaya yang sangat besar?
Saya kira biayanya tidak besar. Lagi pula, sebanding dengan kepentingan yang lebih luas. Biar suasananya dingin, tidak kisruh terus seperti selama ini.
Bukankah kisruh di tingkatan elit politik, selevel presiden, sesuatu yang lumrah karena itu memang jabatan politik?
Lumrah sepanjang tidak mengganggu agenda pembangunan yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Kalau ribut terus sepanjang hari, tentu akan berdampak pada kepentingan masyarakat.
Apa dampaknya bagi masyarakat?
Seorang pemimpin (presiden) harus mempunyai banyak waktu untuk mengurus rakyatnya. Bukan hanya mengurus seputar isu legitimasi dan tekanan dair para politisi saja. Dengan banyaknya prahara yang berkutat pada masalah politik, otomatis kepentingan masyarakat yang lebih luas terabaikan.
Apakah Ki Kusumo yakin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan jatuh di tahun 2012 ini?
(Ki Kusumo diam agak lama) Kalau pengertian jatuh artinya ada pergantian presiden, saya tidak yakin. Namun jika artinya akan kehilangan dukungan masyarakat, iya. Semakin hari dukungan masyarakat terhadap pemerintah semakin turun dan puncaknya terjadi pada 2012.
Apakah ini juga dampak dari ketiadaan benteng di Istana Negara?
Betul. Selama kondisi Istana Negara masih seperti sekarang, maka siapapun presidennya akan mendapat banyak rintangan. Pemerintahannya tidak akan langgeng. Perlu keberanian untuk merombak kondisi Istana Negara karena akan mendapat banyak tentangan dari pihak-pihak yang tidak menghendaki Indonesia aman dan damai. Mereka akan menggunakan dalil-dalil pembenaran sesuatu kebutuhan kelompoknya. Namun jika Presiden SBY beerani mengambil resiko itu, manfaatnya sangat besar bagi negara.
Tapi nanti Presiden SBY dituding percaya pada tahayul? Imbasnya, citra beliau akan jatuh.
Dimana tahayulnya? Tahayul itu sesuatu yang tidak jelas juntrungannya. Kalau pembuatan benteng Istana jelas ada dasarnya, yakni mengadopsi kebudayaan kita sendiri. Jadi tidak ada alasan takut citranya akan jatuh? Di negara lain kepala negara bahkan berani memindahkan ibukota negara demi kepentingan yang lebih luas.
2012. Majalah Misteri Edisi 527. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.
