![]() |
| id.wikipedia.org |
Cermin Ramal Nostradamus - Michel de Nostredame atau Nostradamus lahr di St. Remy, Prancis Selatan tahun 1503. Awalnya dia dikenal karena hasil karyanya dibidang kedokteran saat terjadi wabah penyakit yang merebak di Aix de Provence dan Lyons tahun 1546-1547.
Kemudian dia mulai membuat ramalan. Koleksi pertamanya diterbitkan tahun 1550 tentang ramalan cuacca. Sejak tahun 1555, dia menerbitkan kumpulan ramalan pertama dari seluruhnya 10 kumpulan yang diberi judul Centuries. Nostradamus meninggal di Salon, Perancis tahun 1566.
Nostradamus menulis ramalannya dalam bentuk sajak, sebagian dengan gaya simbolik. Dia juga tidak mengatur peristiwa dalam ramalannya dengan urutan tertentu. Namun, yang pasti sejumlah ramalannya munjuk kepada suatu peristiwa yang belum pernah terjadi ketika buku Centuries diterbitkan.
Ketenaran Nostradamus sebagai seorang peramal bermula saat ia menulis ramalannya sebagai berikut: "Singa muda akan mengatasi singa tua, di medan perang dalam sebuah pertempuran. Lawannya akan menusuk matanya dalam kurungan emas, dua luka sekaligus. Kemudian dia mati setelah penderitaan yang mengerikan".
Empat tahun kemudian, di bulan Juli 1559, Raja Henry II dari Perancis yang sering menggunakan singa sebagia simbolnya, terlibat dalam pertarungan antara 2 ksatria. Ketika itu tombak lawannya yang berusia lebih muda menembus penutup kepala berwarna emas milik sang raja dan melukai matanya. Henry meninggal setelah menderita berkepanjangan.
Sejak saat itu orang mulai mengkaju buku Centuries dan megnaitkan dengan peristiwa yang terjadi dikemudian hari. Ternyata ramalannya yang sebagian besar menyangkut gerakan politik berskala besar dan peristiwa luar biasa, terbukti kebenarannya.
Kemampuan Nostradamus dalam meramal peristiwa masa depan menarik perhatian Andrew Lang dari Institute of Research Parapschyology di Inggris. Kemudian dilakukanlah riset. Dia memulainya dengan meneliti kamaar kerja Nostradamus. Hasil pengamatannya sebagai berikut: Kamar kerja Nostradamus berukuran sekitar 5x5 meter dengan dinding bagian dalam kamar masih tampak susunan batubata (tidak diplester). Di tengah ruangan terdapat meja kerja dan kursi. Di atas meja, tampak lembaran kertas, alat tulis, tinta, tempat lampu (lilin) dan sebuah cermin berbentuk persegi berukuran kecil yang menghadap kursi. Sehingga apabila seseorang duduk di kursi, maka wajahnya akan terlihat di cermin.
Awalnya Andrew tidak melihat sesusatu yang aneh dengan kamar kerja dan isinya itu. Namun, perhatiannya terpikat dengan posisi cermin yang berada di meja tersebut. Pada masa itu terasa janggal seorang pria meletakkan cermin di atas meja. Terlebih lagi posisi tempat lampu (lilin) berada persis di belakang cermin. APabila lilin dinyalakan, tentu sebagian sinarnya tertutup cermin yang akan menghalangi proses menulis.
Keanehan ini mendorong Andrew untuk melakukan eksperimen. Dia membuat sebuah ruangan persis kamar kerja Nostradamus. Di tengah ruangan ditaruh meja dan kursi. Di atasnya diletakkan sebuah cermin persegi berukuran besar dengan lampu penerangan di belakang cermin.
Kemudian dia menyiapkan beberapa orang peserta (scyer). Mereka dihariskan memiliki satu permohonan, misalnya ingin melihat keadaan saudaranya di luar kota. Setiap orang yang masuk ruangan disuruh duduk sambil memandang cermin dengan penuh perhatian sampai mereka melihat apa yang menjadi keinginannya.
Setelah beberapa kali melakukan percobaan, Andrew terkejut ketika ada diantara peserta yang mengaku keinginannya terkabul. Ajaibnya, mereka melihat cermin tersebut seolah berubah menjadi layar televisi. Apapun yang diinginkan peserta terlihat jelas di cermin seperti layaknya melihat televisi.
Eksperimen ini disebut scrying atau ramalan dengan melihat sesuatu dari jarak jauh dengan medium tertentu (seperti cermin, bola kristal, kolam air, kulit hewan, dll. Pelakunya disebut scryer.
Hasil eksperimen Andrew membawanya kepada hipotesis bahwa dalam proses meramal Nostradamus tampaknya melihat peristiwa yang akan terjadi melalui cermin di depannya. Seperti menonton televisi, Nostradamus hanya tinggal mencatatnya saja, Wallahualam.
Malarya, Agus. 2006. Majalah Misteri Edisi 408. Jakarta: Yayasan Sinar Berdiri Jaya.
